Rabu, 24 April 2013
Kamis, 15 November 2012
Manajemen Konflik
BAB I
PENDAHULUAN
Organisasi sebagai suatu sistem terdiri dari komponen-komponen
(subsistem) yang saling berkaitan atau saling tergantung (inter
dependence) satu sama lain dan dalam proses kerja sama untuk mencapai
tujuan tertentu (Kast dan Rosenzweigh, 1974). Sub-subsistem yang saling
tergantung itu adalah tujuan dan nilai-nilai (goals and values
subsystem), teknikal (technical subsystem), manajerial
(managerialsubsystem), psikososial (psychosocial subsystem), dan
subsistem struktur (structural subsystem). Dalam proses interaksi antara
suatu subsistem dengan subsistem lainnya tidak ada jaminan akan selalu
terjadi kesesuaian atau kecocokan antara individu pelaksananya. Setiap
saat ketegangan dapat saja muncul, baik antar individu maupun antar
kelompok dalam organisasi. Banyak faktor yang melatar belakangi
munculnya ketidakcocokan atau ketegangan, antara lain sifat-sifat
pribadi yang berbeda, perbedaan kepentingan, komunikasi yang “buruk”,
perbedaan nilai, dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan inilah yang
akhirnya membawa organisasi kedalam suasana konflik.
Agar organisasi dapat tampil efektif, maka individu dan kelompok yang saling tergantung itu harus menciptakan hubungan kerja yang saling mendukung satu sama lain, menuju pencapaian tujuan organisasi. Namun, sabagaimana dikatakan oleh Gibson, et al. (1997:437), selain dapat menciptakan kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. Hal ini terjadi jika masing-masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri-sendiri dan tidak saling bekerjasama satu sama lain.
Agar organisasi dapat tampil efektif, maka individu dan kelompok yang saling tergantung itu harus menciptakan hubungan kerja yang saling mendukung satu sama lain, menuju pencapaian tujuan organisasi. Namun, sabagaimana dikatakan oleh Gibson, et al. (1997:437), selain dapat menciptakan kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. Hal ini terjadi jika masing-masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri-sendiri dan tidak saling bekerjasama satu sama lain.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Manajemen Konflik
Manajemen konflik merupakan serangkaian aksi dan reaksi antara
pelaku maupun pihak luar dalam suatu konflik. Manajemen konflik
termasuk pada suatu pendekatan yang berorientasi pada proses yang
mengarahkan pada bentuk komunikasi (termasuk tingkah laku) dari pelaku
maupun pihak luar dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan (interests)
dan interpretasi. Bagi pihak luar (di luar yang berkonflik) sebagai
pihak ketiga, yang diperlukannya adalah informasi yang akurat tentang
situasi konflik. Hal ini karena komunikasi efektif di antara pelaku
dapat terjadi jika ada kepercayaan terhadap pihak ketiga.
Menurut Ross (1993) bahwa manajemen konflik merupakan
langkah-langkah yang diambil para pelaku atau pihak ketiga dalam rangka
mengarahkan perselisihan ke arah hasil tertentu yang mungkin atau
tidak mungkin menghasilkan suatu akhir berupa penyelesaian konflik dan
mungkin atau tidak mungkin menghasilkan ketenangan, hal positif,
kreatif, bermufakat, atau agresif. Manajemen konflik dapat melibatkan
bantuan diri sendiri, kerjasama dalam memecahkan masalah (dengan atau
tanpa bantuan pihak ketiga) atau pengambilan keputusan oleh pihak
ketiga. Suatu pendekatan yang berorientasi pada proses manajemen
konflik menunjuk pada pola komunikasi (termasuk perilaku) para pelaku
dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan dan penafsiran terhadap
konflik.
Fisher dkk (2001:7) menggunakan istilah transformasi konflik secara lebih umum dalam menggambarkan situasi secara keseluruhan.
- Pencegahan Konflik, bertujuan untuk mencegah timbulnya konflik yang keras.
- Penyelesaian Konflik, bertujuan untuk mengakhiri perilaku kekerasan melalui persetujuan damai.
- Pengelolaan Konflik, bertujuan untuk membatasi dan menghindari kekerasan dengan mendorong perubahan perilaku positif bagi pihak-pihak yang terlibat.
- Resolusi Konflik, menangani sebab-sebab konflik dan berusaha membangun hubungan baru dan yang bisa tahan lama diantara kelompok-kelompok yang bermusuhan.
- Transformasi Konflik, mengatasi sumber-sumber konflik sosial dan politik yang lebih luas dan berusaha mengubah kekuatan negatif dari peperangan menjadi kekuatan sosial dan politik yang positif.
Tahapan-tahapan diatas merupakan satu kesatuan yang harus dilakukan
dalam mengelola konflik. Sehingga masing-masing tahap akan melibatkan
tahap sebelumnya misalnya pengelolaan konflik akan mencakup pencegahan
dan penyelesaian konflik.
Sementara Minnery (1980:220) menyatakan bahwa manajemen konflik
merupakan proses, sama halnya dengan perencanaan kota merupakan proses.
Minnery (1980:220) juga berpendapat bahwa proses manajemen konflik
perencanaan kota merupakan bagian yang rasional dan bersifat iteratif,
artinya bahwa pendekatan model manajemen konflik perencanaan kota
secara terus menerus mengalami penyempurnaan sampai mencapai model yang
representatif dan ideal. Sama halnya dengan proses manajemen konflik
yang telah dijelaskan diatas, bahwa manajemen konflik perencanaan kota
meliputi beberapa langkah yaitu: penerimaan terhadap keberadaan konflik
(dihindari atau ditekan/didiamkan), klarifikasi karakteristik dan
struktur konflik, evaluasi konflik (jika bermanfaat maka dilanjutkan
dengan proses selanjutnya), menentukan aksi yang dipersyaratkan untuk
mengelola konflik, serta menentukan peran perencana sebagai partisipan
atau pihak ketiga dalam mengelola konflik. Keseluruhan proses tersebut
berlangsung dalam konteks perencanaan kota dan melibatkan perencana
sebagai aktor yang mengelola konflik baik sebagai partisipan atau pihak
ketiga.
2.2 Teori-teori Konflik
Teori-teori utama mengenai sebab-sebab konflik adalah :
a. Teori hubungan masyarakat
Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi yang terus
terjadi, ketidakpercayaan dan permusuhan di antara kelompok yang
berbeda dalam suatu masyarakat.
Sasaran : meningkatkan komunikasi dan saling pengertian antara
kelompok yang mengalami konflik, serta mengusahakan toleransi dan agar
masyarakat lebih bisa saling menerima keragaman yang ada didalamnya.
b. Teori kebutuhan manusia
Menganggap bahwa konflik yang berakar disebabkan oleh kebutuhan
dasar manusia (fisik, mental dan sosial) yang tidak terpenuhi atau
dihalangi. Hal yang sering menjadi inti pembicaraan adalah keamanan,
identitas, pengakuan, partisipasi, dan otonomi.
Sasaran : mengidentifikasi dan mengupayakan bersama kebutuhan mereka
yang tidak terpenuhi, serta menghasilkan pilihan-pilihan untuk memenuhi
kebutuhan itu.
c. Teori negosiasi prinsip
Menganggap bahwa konflik disebabkan oleh posisi-posisi yang tidak
selaras dan perbedaan pandangan tentang konflik oleh pihak-pihak yang
mengalami konflik.
Sasaran : membantu pihak yang berkonflik untuk memisahkan perasaan
pribadi dengan berbagai masalah dan isu dan memampukan mereka untuk
melakukan negosiasi berdasarkan kepentingan mereka daripada posisi
tertentu yang sudah tetap. Kemudian melancarkan proses kesepakatan yang
menguntungkan kedua belah pihak atau semua pihak.
d. Teori identitas
Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh identitas yang terancam,
yang sering berakar pada hilangnya sesuatu atau penderitaan di masa
lalu yang tidak diselesaikan.
Sasaran : melalui fasilitas lokakarya dan dialog antara pihak-pihak
yang mengalami konflik, sehingga dapat mengidentifikasi ancaman dan
ketakutan di antara pihak tersebut dan membangun empati dan
rekonsiliasi di antara mereka.
e. Teori kesalahpahaman antarbudaya
Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh ketidakcocokan dalam cara-cara komunikasi di antara berbagai budaya yang berbeda.
Sasaran : menambah pengetahuan kepada pihak yang berkonflik mengenai
budaya pihak lain, mengurangi streotip negatif yang mereka miliki
tentang pihak lain, meningkatkan keefektifan komunikasi antarbudaya.
f. Teori transformasi konflik
Berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh masalah-masalah
ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang muncul sebagai masalah sosial,
budaya dan ekonomi.
Sasaran : mengubah struktur dan kerangka kerja yang menyebabkan
ketidaksetaraan dan ketidakadilan termasuk kesenjangan ekonomi,
meningkatkan jalinan hubungan dan sikap jangka panjang di antar pihak
yang berkonflik, mengembangkan proses dan sistem untuk mempromosikan
pemberdayaan, keadilan, perdamaian, pengampunan, rekonsiliasi,
pengakuan.
2.3 Pengertian Konflik
Robbins (1996) dalam “Organization Behavior” menjelaskan bahwa
konflik adalah suatu proses interaksi yang terjadi akibat adanya
ketidaksesuaian antara dua pendapat (sudut pandang) yang berpengaruh
atas pihak-pihak yang terlibat baik pengaruh positif maupun pengaruh
negative. Tentu saja ada konflik yang hanya dibayangkan ada sebagai sebuah
persepsi ternyata tidak riil. Sebaliknya dapat terjadi bahwa ada
situasi-situasi yang sebenarnya dapat dianggap sebagai “bernuansa
konflik” ternyata tidak dianggap sebagai konflik karena nggota-anggota
kelompok tidak menganggapnya sebagai konflik. Selanjutnya, setiap kita
membahas konflik dalam organisasi kita, konflik selalu diasosiasikan
dengan antara lain, “oposisi” (lawan), “kelangkaan”, dan “blokade”.
Di asumsikan pula bahwa ada dua fihak atau lebih yang tujuan atau kepentingannya tidak saling menunjang. Kita semua mengetahui pula bahwa sumberdaya dana, daya reputasi, kekuasaan, dan lain-lain, dalam kehidupan dan dalam organisasi tersedianya terbatas. Setiap orang, setiap kelompok atau setiap unit dalam organisasi akan berusaha memperoleh semberdaya tersebut secukupnya dan kelangkaan tersebut akan mendorong perilaku yang bersifat menghalangi oleh setiap pihak yang punya kepentingan yang sama. Pihak-pihak tersebut kemudian bertindak sebagai oposisi terhadap satu sama lain. Bila ini terjadi, maka status dari situasi dapat disebut berada dalam kondisi “konflik”. Bila kita mempersempit lingkungan organisasi maka dua orang pakar penulis dari Amerika Serikat yaitu, Cathy A Constantino, dan Chistina Sickles Merchant mengatakan dengan kata-kata yang lebih sederhana, bahwa konflik pada dasarnya adalah: “sebuah proses mengekspresikan ketidak puasan, ketidak setujuan, atau harapan-harapan yang tidak terealisasi”. Kedua penulis tersebut sepakat dengan Robbins bahwa konflik pada dasarnya adalah sebuah proses.
Bentuk Manifestasi Konflik
Konflik yang terjadi dalam masyarakat ata dalam sebuah organisasi dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk atau cara :
a. Perselisihan (Dispute) : bagi kebanyakan orang awam, kata konflik
biasanya diasosiasikan dengan “dispute” yaitu “perselisihan” tetapi,
dalam konteks ilmu perilaku organisasi, “perselisihan” sebenarnya sudah
merupakan salah satu dari banyak bentuk produk dari konflik.Dispute atau
perselisihan adalah salah satu produk konflik yang paling mudah
terlihat dan dapat berbentuk protes (grievances), tindakan indispliner,
keluhan (complaints), unjuk rasa ramai-ramai , tindakan pemaksaan
(pemblokiran, penyanderaan, dsb.), tuntutan ataupun masih bersifat
ancaman atau pemogokan baik antara fihak internal organisasi ataupun
dengan fihak luar adalah tanda-tanda konflik yang tidak terselesaikan.
b. Kompetisi (persaingan) yang tidak sehat. Persaingan sebenarnya
tidak sama dengan konflik. Persaingan seperti misalnya dalam
pertandingan atletik mengikuti aturan main yang jelas dan ketat. Semua
pihak yang bersaing berusaha memperoleh apa yang diinginkan tanpa di
jegal oleh pihak lain. Adanya persaingan yang sangat keras dengan wasit
yang tegas dan adil, yang dapat menjurus kepada perilaku dan tindakan
yang bersifat menjegal yang lain.
c. Sabotase adalah salah satu bentuk produk konflik yang tidak dapat
diduga sebelumnya. Sabotase seringkali digunakan dalam permainan politik
dalam internal organisasi atau dengan pihak eksternal yang dapat
menjebak pihak lain. Misalnya saja satu pihak mengatakan tidak apa-ap,
tidak mengeluh, tetapi tiba-tiba mengajukan tuntutan ganti rugi miliaran
rupiah melalui pengadilan.
d. Insfisiensi/Produktivitas Yang Rendah. Apa yang terjadi adalah
salah satu fihak (biasanya fihak pekerja) dengan sengaja melakukan
tindakan-tindakan yang berakibat menurunkan produktivitas dengan cara
memperlambat kerja (slow-down), mengurangi output, melambatkan
pengiriman, dll. Ini adalah salah satu dari bentuk konflik yang
tersembunyi (hidden conflic) dimana salah satu fihak menunjukan sikapnya
secara tidak terbuka.
e. Penurunan Moril (Low Morale). Penurunan moril dicerminkan dalam
menurunnya gairah kerja, meningkatnya tingkat kemangkiran, sakit,
penurunan moril adalah juga merupakan salah satu dari produk konflik
tersembunyi dalam situasi ini salah satu fihak, biasanya pekerja, merasa
takut untuk secara terang-terangan untuk memprotes fihak lain sehingga
elakukan tindakan-tindakan tersembunyi pula.
f. Menahan/Menyembunyikan Informasi. Dalam banyak organisasi
informasi adalah salah satu sumberdaya yang sangat penting dan identik
dengan kekuasaan (power). Dengan demikian maka penahanan/penyembunyian
informasi adalah identik dengan kemampuan mengendalikan kekuasaan
tersebut. tindakan-tindakan seperti ini menunjukkan adanya konflik
tersembunyi dan ketidak percayaan (distrust).
Manajemen Konflik Yang Efektif
Manajemen konflik dimaksudkan sebagai sebuah proses terpadu (intergrated) menyeluruh untuk menetapkan tujuan organisasi dalam penanganan konflik, menetapkan cara-cara mencegahnya program-program dan tindakan sebagai tersebut maka dapat ditekankan empat hal :
Manajemen konflik dimaksudkan sebagai sebuah proses terpadu (intergrated) menyeluruh untuk menetapkan tujuan organisasi dalam penanganan konflik, menetapkan cara-cara mencegahnya program-program dan tindakan sebagai tersebut maka dapat ditekankan empat hal :
a. Manajemen konflik sangat terkait dengan visi, strategi dan
sistem nilai/kultur organisasi manajemen konflik yang diterapkan akan
terkait erat dengan ketiga hal tersebut.
b. Manajemen konflik bersifat proaktif dan menekankan pada
usaha pencegahan. Bila fokus perhatian hanya ditujukan pada pencarian
solusi-solusi untuk setiap konflik yang muncul, maka usaha itu adalah
usaha penanganan konflik, bukan manajemen konflik.
c. Sistem manajemen konflik harus bersifat menyeluruh
(corporate wide) dan mengingat semua jajaran dalam organisasi. Adalah
sia-sia bila sistem manajemen konflik yang diterapkan hanya untuk bidang
Sumberdaya Manusia saja misalnya.
d. Semua rencana tindakan dan program-program dalam sistem
manajemen konflik juga akan bersifat pencegahan dan bila perlu
penanganan. Dengan demikian maka semua program akan mencakup edukasi,
pelatihan dan program sosialisasi lainnya.
2.4 Pandangan Mengenai Konflik
Terdapat tiga pandangan mengenai konflik. Hal ini disebabkan karena adanya pandangan yang berbeda mengenai apakah konflik merugikan, hal yang wajar atau justru harus diciptakan untuk memberikan stimulus bagi pihak-pihak yang terlibat untuk saling berkompetisi dan menemukan solusi yang terbaik. Pandangan itu adalah sebagai berikut :
a. Pandangan Tradisional (The Traditional View). Pandangan ini menyatakan bahwa semua konflik itu buruk. Konflik dilihat sebagai sesuatu yang negatif, merugikan dan harus dihindari. Untuk memperkuat konotasi negatif ini, konflik disinonimkan dengan istilah violence, destruction, dan irrationality.
b. Pandangan Hubungan Manusia (The Human Relations View). Pandangan ini berargumen bahwa konflik merupakan peristiwa yang wajar terjadi dalam semua kelompok dan organisasi. Konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari, karena itu keberadaan konflik harus diterima dan dirasionalisasikan sedemikian rupa sehingga bermanfaat bagi peningkatan kinerja organisasi.
c. Pandangan Interaksionis (The Interactionist View). Pandangan ini cenderung mendorong terjadinya konflik, atas dasar suatu asumsi bahwa kelompok yang koperatif, tenang, damai, dan serasi, cenderung menjadi statis, apatis, tidak aspiratif, dan tidak inovatif. Oleh karena itu, menurut aliran pemikiran ini, konflik perlu dipertahankan pada tingkat minimun secara berkelanjutan, sehingga kelompok tetap bersemangat (viable), kritis-diri (self-critical), dan kreatif.
2.5 Penyebab Konflik
Terdapat beberapa hal yang melatarbelakangi terjadinya konflik. Agus M. Hardjana mengemukakan sepuluh penyebab munculnya konflik, yaitu :
a. Salah pengertian atau salah paham karena kegagalan komunikas
b. Perbedaan tujuan kerja karena perbedaan nilai hidup yang dipegang
c. Rebutan dan persaingan dalam hal yang terbatas seperti fasilitas kerja dan jabatan
d. Masalah wewenang dan tanggung jawab
e. Penafsiran yang berbeda atas satu hal, perkara dan peristiwa yang sama
f. Kurangnya kerja sama
g. Tidak mentaati tata tertib dan peraturan kerja yang ada
h. Ada usaha untuk menguasai dan merugikan
i. Pelecehan pribadi dan kedudukan
j. Perubahan dalam sasaran dan prosedur kerja sehingga orang menjadi merasa tidak jelas tentang apa yang diharapkan darinya.
Stoner sendiri menyatakan bahwa penyebab yang menimbulkan terjadinya konflik adalah :
a. Pembagian sumber daya (shared resources)
b. Perbedaan dalam tujuan (differences in goals)
c. Ketergantungan aktivitas kerja (interdependence of work activities)
d. Perbedaan dalam pandangan (differences in values or perceptions)
e. Gaya individu dan ambiguitas organisasi (individual style and organizational ambiguities).
Robbins sendiri membedakan sumber konflik yang berasal dari karakteristik perseorangan dalam organisasi dan konflik yang disebabkan oleh masalah struktural. Dari sini kemudian Robbins menarik kesimpulan bahwa ada orang yang mempunyai kesulitan untuk bekerja sama dengan orang lain dan kesulitan tersebut tidak ada kaitannya dengan kemampuan kerja atau interaksinya yang formal. Konflik perseorangan ini disebut Robbins dengan konflik psikologis.
Untuk itulah Robbins kemudian memusatkan perhatian pada sumber konflik organisasi yang bersifat struktural. Sumber-sumber konflik yang dimaksudkan Robbins, yaitu :
a. Saling ketergantungan pekerjaan
b. Ketergantungan pekerjaan satu arah
c. Diferensiasi horizontal yang tinggi
d. Formalisasi yang rendah
e. Ketergantungan pada sumber bersama yang langka
f. Perbedaan dalam kriteria evaluasi dan sistem imbalan
g. Pengambilan keputusan partisipatif
h. Keanekaragaman anggota
i. Ketidaksesuaian status
j. Ketidakpuasan peran
k. Distorsi komunikasi
2.6 Macam-macam Konflik
Konflik yang terjadi dalam suatu organisasi dapat dibedakan menjadi beberapa macam, salah satunya dari segi pihak yang terlibat dalam konflik. Dari segi ini konflik dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :
1. Konflik individu dengan individu
Konflik semacam ini dapat terjadi antara individu pimpinan dengan individu pimpinan dari berbagai tingkatan. Individu pimpinan dengan individu karyawan maupun antara individu karyawan dengan individu karyawan lainnya.
2. Konflik individu dengan kelompok
Konflik semacam ini dapat terjadi antara individu pimpinan dengan kelompok ataupun antara individu karyawan dengan kelompok pimpinan.
3. Konflik kelompok dengan kelompok
Ini bisa terjadi antara kelompok pimpinan dengan kelompok karyawan, kelompok pimpinan dengan kelompok pimpinan yang lain dalam berbagai tingkatan maupun antara kelompok karyawan dengan kelompok karyawan yang lain.
2.4 Pandangan Mengenai Konflik
Terdapat tiga pandangan mengenai konflik. Hal ini disebabkan karena adanya pandangan yang berbeda mengenai apakah konflik merugikan, hal yang wajar atau justru harus diciptakan untuk memberikan stimulus bagi pihak-pihak yang terlibat untuk saling berkompetisi dan menemukan solusi yang terbaik. Pandangan itu adalah sebagai berikut :
a. Pandangan Tradisional (The Traditional View). Pandangan ini menyatakan bahwa semua konflik itu buruk. Konflik dilihat sebagai sesuatu yang negatif, merugikan dan harus dihindari. Untuk memperkuat konotasi negatif ini, konflik disinonimkan dengan istilah violence, destruction, dan irrationality.
b. Pandangan Hubungan Manusia (The Human Relations View). Pandangan ini berargumen bahwa konflik merupakan peristiwa yang wajar terjadi dalam semua kelompok dan organisasi. Konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari, karena itu keberadaan konflik harus diterima dan dirasionalisasikan sedemikian rupa sehingga bermanfaat bagi peningkatan kinerja organisasi.
c. Pandangan Interaksionis (The Interactionist View). Pandangan ini cenderung mendorong terjadinya konflik, atas dasar suatu asumsi bahwa kelompok yang koperatif, tenang, damai, dan serasi, cenderung menjadi statis, apatis, tidak aspiratif, dan tidak inovatif. Oleh karena itu, menurut aliran pemikiran ini, konflik perlu dipertahankan pada tingkat minimun secara berkelanjutan, sehingga kelompok tetap bersemangat (viable), kritis-diri (self-critical), dan kreatif.
2.5 Penyebab Konflik
Terdapat beberapa hal yang melatarbelakangi terjadinya konflik. Agus M. Hardjana mengemukakan sepuluh penyebab munculnya konflik, yaitu :
a. Salah pengertian atau salah paham karena kegagalan komunikas
b. Perbedaan tujuan kerja karena perbedaan nilai hidup yang dipegang
c. Rebutan dan persaingan dalam hal yang terbatas seperti fasilitas kerja dan jabatan
d. Masalah wewenang dan tanggung jawab
e. Penafsiran yang berbeda atas satu hal, perkara dan peristiwa yang sama
f. Kurangnya kerja sama
g. Tidak mentaati tata tertib dan peraturan kerja yang ada
h. Ada usaha untuk menguasai dan merugikan
i. Pelecehan pribadi dan kedudukan
j. Perubahan dalam sasaran dan prosedur kerja sehingga orang menjadi merasa tidak jelas tentang apa yang diharapkan darinya.
Stoner sendiri menyatakan bahwa penyebab yang menimbulkan terjadinya konflik adalah :
a. Pembagian sumber daya (shared resources)
b. Perbedaan dalam tujuan (differences in goals)
c. Ketergantungan aktivitas kerja (interdependence of work activities)
d. Perbedaan dalam pandangan (differences in values or perceptions)
e. Gaya individu dan ambiguitas organisasi (individual style and organizational ambiguities).
Robbins sendiri membedakan sumber konflik yang berasal dari karakteristik perseorangan dalam organisasi dan konflik yang disebabkan oleh masalah struktural. Dari sini kemudian Robbins menarik kesimpulan bahwa ada orang yang mempunyai kesulitan untuk bekerja sama dengan orang lain dan kesulitan tersebut tidak ada kaitannya dengan kemampuan kerja atau interaksinya yang formal. Konflik perseorangan ini disebut Robbins dengan konflik psikologis.
Untuk itulah Robbins kemudian memusatkan perhatian pada sumber konflik organisasi yang bersifat struktural. Sumber-sumber konflik yang dimaksudkan Robbins, yaitu :
a. Saling ketergantungan pekerjaan
b. Ketergantungan pekerjaan satu arah
c. Diferensiasi horizontal yang tinggi
d. Formalisasi yang rendah
e. Ketergantungan pada sumber bersama yang langka
f. Perbedaan dalam kriteria evaluasi dan sistem imbalan
g. Pengambilan keputusan partisipatif
h. Keanekaragaman anggota
i. Ketidaksesuaian status
j. Ketidakpuasan peran
k. Distorsi komunikasi
2.6 Macam-macam Konflik
Konflik yang terjadi dalam suatu organisasi dapat dibedakan menjadi beberapa macam, salah satunya dari segi pihak yang terlibat dalam konflik. Dari segi ini konflik dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :
1. Konflik individu dengan individu
Konflik semacam ini dapat terjadi antara individu pimpinan dengan individu pimpinan dari berbagai tingkatan. Individu pimpinan dengan individu karyawan maupun antara individu karyawan dengan individu karyawan lainnya.
2. Konflik individu dengan kelompok
Konflik semacam ini dapat terjadi antara individu pimpinan dengan kelompok ataupun antara individu karyawan dengan kelompok pimpinan.
3. Konflik kelompok dengan kelompok
Ini bisa terjadi antara kelompok pimpinan dengan kelompok karyawan, kelompok pimpinan dengan kelompok pimpinan yang lain dalam berbagai tingkatan maupun antara kelompok karyawan dengan kelompok karyawan yang lain.
2.7 Peranan Konflik Dalam Organisasi
Secara tradisional, pendekatan terhadap konflik organisasional adalah
sangat sederhana dan optimistik. Pendekatan tersebut didasarkan atas tiga
anggapan sebagai berikut :
2.8 Penerapan Manajemen Konflik Dalam Organisasi
Untuk itulah diperlukan upaya untuk mengelola konflik secara serius agar keberlangsungan suatu organisasi tidak terganggu. Stoner mengemukakan tiga cara dalam pengelolaan konflik, yaitu :
a. Merangsang konflik di dalam unit atau organisasi yang prestasi kerjanya rendah karena tingkat konflik yang terlalu kecil. Termasuk dalam cara ini adalah :
• minta bantuan orang luar
• menyimpang dari peraturan (going against the book)
• menata kembali struktur organisasi
• menggalakkan kompetisi
• memilih manajer yang cocok
b. Meredakan atau menumpas konflik jika tingkatnya terlalu tinggi atau kontra-produktif
c. Menyelesaikan konflik. metode penyelesaian konflik yang disampaikan Stoner adalah :
• dominasi dan penguasaan, hal ini dilakukan dengan cara paksaan, perlunakan, penghindaran, dan penentuan melalui suara terbanyak.
• Kompromi
• pemecahan masalah secara menyeluruh.
Konflik yang sudah terjadi juga bisa diselesaikan lewat perundingan. Cara ini dilakukan dengan melakukan dialog terus menerus antar kelompok untuk menemukan suatu penyelesaian maksimum yang menguntungkan kedua belah pihak. Melalui perundingan, kepentingan bersama dipenuhi dan ditentukan penyelesaian yang paling memuaskan. Gaya perundingan untuk mengelola konflik dapat dilakukan dengan cara :
Model penanganan konflik yang lain juga disampaikan oleh Sondang, yaitu dengan cara tidak menghilangkan konflik, namun dikelola dengan cara :
Cara lain juga dikemukakan Theo Riyanto, yaitu dengan secara dini melakukan tindakan yang sifatnya preventif, yaitu dengan cara :
2.9 Aspek Positif Terhadap Konflik
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1. Konflik menurut definisinya dapat dihindarkan
2. Konflik diakibatkan oleh para pembuat masalah, pengacau, dan
primadona.
3. Bentuk-bentuk wewenang legalistic seperti ‘berjalan melalui
saluran-saluran‘ atau ‘berpegang pada aturan‘.
Dan hasilnya berupa serangkaian anggapan baru tentang konflik yang
hampir persis berlawanan dengan anggapan-anggapan tradisional :
1. konflik tidak dapat dihindarkan
2. konflik ditentukan oleh factor-faktor struktural seperti bentuk fisik
suatu bangunan, desain struktur karier, atau sifat sistem kelas.
3. Konflik adalah bagian integral sifat perubahan.
4. Konflik dapat membantu atau menghambat pelaksanaan kegiatan
organisasi dalam berbagai derajat.
5. Tingkat konflik minimal adalah optimis.
Atas dasar anggapan-anggapan diatas, manajemen konflik organisasional
telah menggunakan suatu pendekatan baru.pendekatan yang cukup representative
adalah tiga strategi dasar untuk mengurangi konflik organisasional yang
dikemukan literer yaitu :
1. Penyangga atau penengah dapat diletakkan diantara pihak-pihak yang
sedang berkonflik.
2. Membantu pihak-pihak yang sedang konflik untuk menggembangan
pandangan yang lebih baik tentang diri mereka dan cara mereka yang saling
mempengaruhi.
3. Merancang kembali struktur organisasi agar konflik berkurang.
2.8 Penerapan Manajemen Konflik Dalam Organisasi
Upaya penanganan konflik sangat penting dilakukan, hal ini disebabkan
karena setiap jenis perubahan dalam suatu organisasi cenderung
mendatangkan konflik. Perubahan institusional yang terjadi, baik
direncanakan atau tidak, tidak hanya berdampak pada perubahan struktur
dan personalia, tetapi juga berdampak pada terciptanya hubungan pribadi
dan organisasional yang berpotensi menimbulkan konflik. Di samping itu,
jika konflik tidak ditangani secara baik dan tuntas, maka akan
mengganggu keseimbangan sumberdaya, dan menegangkan hubungan antara
orang-orang yang terlibat.
Untuk itulah diperlukan upaya untuk mengelola konflik secara serius agar keberlangsungan suatu organisasi tidak terganggu. Stoner mengemukakan tiga cara dalam pengelolaan konflik, yaitu :
a. Merangsang konflik di dalam unit atau organisasi yang prestasi kerjanya rendah karena tingkat konflik yang terlalu kecil. Termasuk dalam cara ini adalah :
• minta bantuan orang luar
• menyimpang dari peraturan (going against the book)
• menata kembali struktur organisasi
• menggalakkan kompetisi
• memilih manajer yang cocok
b. Meredakan atau menumpas konflik jika tingkatnya terlalu tinggi atau kontra-produktif
c. Menyelesaikan konflik. metode penyelesaian konflik yang disampaikan Stoner adalah :
• dominasi dan penguasaan, hal ini dilakukan dengan cara paksaan, perlunakan, penghindaran, dan penentuan melalui suara terbanyak.
• Kompromi
• pemecahan masalah secara menyeluruh.
Konflik yang sudah terjadi juga bisa diselesaikan lewat perundingan. Cara ini dilakukan dengan melakukan dialog terus menerus antar kelompok untuk menemukan suatu penyelesaian maksimum yang menguntungkan kedua belah pihak. Melalui perundingan, kepentingan bersama dipenuhi dan ditentukan penyelesaian yang paling memuaskan. Gaya perundingan untuk mengelola konflik dapat dilakukan dengan cara :
a. Pencairan, yaitu dengan melakukan dialog untuk mendapat suatu pengertian
b. Keterbukaan, pihak-pihak yang terlibat bisa jadi tidak terbuka apalagi
jika konflik terjadi dalam hal-hal sensitif dan dalam suasana yang
emosional
c. Belajar empati, yaitu dengan melihat kondisi dan kecemasan orang lain sehingga didapatkan pengertian baru mengenai orang lain
d. Mencari tema bersama, pihak-pihak yang terlibat dapat dibantu dengan cara mencari tujuan-tujuan bersama
e. Menghasilkan alternatif, hal ini dilakukan dengan jalan mencari alternatif untuk menyelesaikan persoalan yang diperselisihkan.
f. Menanggapi berbagai alternatif, setelah ditemukan alternatif-alternatif
penyelesaian hendaknya pihak-pihak yang terlibat dalam konflik
mempelajari dan memberikan tanggapan
g. Mencari penyelesaian, sejumlah
alternatif yang sudah dipelajari secara mendalam dapat diperoleh suatu
konsensus untuk menetapkan suatu penyelesaian
h. Membuka jalan buntu,
kadangkala ditemukan jalan buntu sehingga pihak ketiga yang obyektif dan
berpengalaman dapat diikutsertakan untuk menyelesaikan masalah
i. Mengikat diri kepada penyelesaian di dalam kelompok, setelah dihasilkan
penyelesaian yang disepakati, pihak-pihak yang terlibat dapat
memperdebatkan dan mempertimbangkan penyelesaian dan mengikatkan diri
pada penyelesaian itu
j. Mengikat seluruh kelompok, tahap terakhir
dari langkah penyelesaian konflik adalah dengan penerimaan atas suatu
penyelesaian dari pihak-pihak yang terlibat konflik.
Model penanganan konflik yang lain juga disampaikan oleh Sondang, yaitu dengan cara tidak menghilangkan konflik, namun dikelola dengan cara :
a. bersaing
b. kolaborasi
c. mengelak
d. akomodatif
e. kompromi
Cara lain juga dikemukakan Theo Riyanto, yaitu dengan secara dini melakukan tindakan yang sifatnya preventif, yaitu dengan cara :
a. menghindari konflik
b. mengaburkan konflik
c. mengatasi konflik dengan cara :
1. dengan kekuatan (win lose solution)
2. dengan perundingan.
1. dengan kekuatan (win lose solution)
2. dengan perundingan.
2.9 Aspek Positif Terhadap Konflik
Konflik bisa jadi merupakan sumber energi dan kreativitas yang
positif apabila dikelola dengan baik. Misalnya, konflik dapat
mengerakkan suatu perubahan :
a. Membantu setiap orang untuk saling memahami tentang perbedaan pekerjaan dan tanggungjawab mereka
b. Memberikan saluran baru untuk komunikasi
c. Menumbuhkan semangat baru pada staf
d. Memberikan kesempatan untuk menyalurkan emosi
e. Menghasikan distribusi sumber tenaga kerja yang lebih merata dalam organisassi Apabila konflik mengarah pada kondisi destruktif, maka hal ini dapat berdampak pada peenurunan efektivitas kerja dalam organissasi baik secara perorangan maupun kelompok, berupa penolakan, resistensi terhadap perubahan, apatis, acuh tak acuh, bahkan mungkin muncul luapan emosi destruktif, berupa demonstrasi.
a. Membantu setiap orang untuk saling memahami tentang perbedaan pekerjaan dan tanggungjawab mereka
b. Memberikan saluran baru untuk komunikasi
c. Menumbuhkan semangat baru pada staf
d. Memberikan kesempatan untuk menyalurkan emosi
e. Menghasikan distribusi sumber tenaga kerja yang lebih merata dalam organisassi Apabila konflik mengarah pada kondisi destruktif, maka hal ini dapat berdampak pada peenurunan efektivitas kerja dalam organissasi baik secara perorangan maupun kelompok, berupa penolakan, resistensi terhadap perubahan, apatis, acuh tak acuh, bahkan mungkin muncul luapan emosi destruktif, berupa demonstrasi.
1. Konflik dalam :
• Perggantian pimpinan yang lebih berwibawa,penuh ide baru dan
semangat baru.
• Perubahan tujuan organisasi yang lebih mencerminkan nilai-nilai yang
disesuaikan dengan perubahan situasi dan kondisi.
• Pelembagaan konflik itu sendiri artinya konflik disalurkan tidak
merusak susunan atau struktur organisasi.
2. Konflik dengan organisasi lain mungkin dapat :
• Lebih mempersatukan para anggota organisasi.
• Mendatangkan kehidupan baru di dalam hal tujuan serta nilai
organisasi
• Lebih menyadarkan para anggota terhadap strategi serta taktik lawan.
• Sebagai suatu lembaga pengawasan masyarakat.
Bagaimanapun juga, konflik merupakan suatu hal yang memakan
pikiran,waktu,tenaga,dan lain-lain untuk menyelesaikannya. Tetapi bila dilihat
sekilas sepertinya konflik itu sangat sulit untuk dihindari dan diselesaikan,
tetapi dalam hal ini jangan beranggapan bahwa dengan adanya konflik berarti
organisasi tersebut telah gagal. Karena betapapun sulitnya suatu konflik pasti
dapat diselesaikan oleh para anggota dengan melihat persoalan serta
mendudukannya pada proporsi yang wajar.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
BAB III
PENUTUP
Konflik dapat terjadi dalam organisasi apapun. Untuk itulah manajer atau
pimpinan dalam organisasi harus mampu mengelola konflik yang terdapat
dalam organisasi secara baik agar tujuan organisasi dapat tercapai tanpa
hambatan-hambatan yang menciptakan terjadinya konflik. Terdapat
banyak cara dalam penanganan suatu konflik. Manajer atau pimpinan harus
mampu mendiagnosis sumber konflik serta memilih strategi pengelolaan
konflik yang sesuai sehingga diperoleh solusi tepat atas konflik
tersebut. Dengan pola pengelolaan konflik yang baik maka akn diperoleh
pengalaman dalam menangani berbagai macam konflik yang akan selalu terus
terjadi dalam organisasi.
kehadiran konflik dalam suatu organisasi tidak dapat
dihindarkan tetapi hanya dapat dieliminir. Konflik dalam organisasi
dapat terjadi antara individu dengan individu, baik individu pimpinan
maupun individu karyawan, konflik individu dengan kelompok maupun
konflik antara kelompok tertentu dengan kelompok yang lain. Tidak semua
konflik merugikan organisasi. Konflik yang ditata dan dikendalikan
dengan baik dapat berujung pada keuntungan organisasi sebagai suatu
kesatuan, sebaliknya apabila konflik tidak ditangani dengan baik serta
mengalami eskalasi secara terbuka dapat merugikan kepentingan
organisasi.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Daftar Pustaka
Pengertian Manajemen Konflik
Manajemen Konflik
Macam-macam Konflik
Penerapan Manajemen Konflik Dalam Organisasi
Aspek Positif Konflik
Segi Positif Dari Konflik
Rabu, 07 November 2012
Organisasi Lini
BAB I
PENDAHULUAN
Organisasi adalah suatu hal yang tidak asing lagi bagi masyarakat
luas, sebab hampir di setiap lapisan masyarakat memiliki organisasi
untuk menjalankan suatu tujuan yang ingin dicapai. Setiap orang memiliki
dasar untuk memimpin yang juga merupakan bagian dari organisasi, paling
tidak setiap masing-masing orang memimpin dirinya sendiri dalam
menjalankan kehidupan sehari-hari. Dewasa ini juga organisasi semakin
berkembang, karena organisasi sangat di perlukan pada organisasi, dan
juga tata kerja dalam pembagian tugas baik secara individual ,maupun
social (bersama-sama). Maka dari itu penting bagi kita, mempunyai
pengetahuan tentang organisasi, manajemen, maupun tata kerja. Agar dapat
mengembangkan potensi diri sebaik mungkin, terutama dalam
keorganisasian.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Organisasi
Organisasi merupakan sekumpulan orang-orang yang disusun dalam
kelompok-kelompok, yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama.
Organisasi adalah system kerjasama antara dua orang atau lebih, atau
organisasi adalah setiap bentuk kerjasama untuk pencapaian tujuan
bersama, organisasi adalah struktur pembagian kerja dan struktur tata
hubungan kerja antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerjasama
secara tertentu untuk bersama-sama mencapai tujuan tertentu.
Menurut Prof Dr. Sondang P. Siagian, mendefinisikan “organisasi ialah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan yang mana terdapat seseorang / beberapa orang yang disebut atasan dan seorang / sekelompok orang yang disebut dengan bawahan.” Dan menurut Chester L Bernard (1938) mengatakan bahwa “Organisasi adalah system kerjasama antara dua orang atau lebih ( Define organization as a system of cooperative of two or more persons) yang sama-sama memiliki visi dan misi yang sama.”
Menurut Prof Dr. Sondang P. Siagian, mendefinisikan “organisasi ialah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan yang mana terdapat seseorang / beberapa orang yang disebut atasan dan seorang / sekelompok orang yang disebut dengan bawahan.” Dan menurut Chester L Bernard (1938) mengatakan bahwa “Organisasi adalah system kerjasama antara dua orang atau lebih ( Define organization as a system of cooperative of two or more persons) yang sama-sama memiliki visi dan misi yang sama.”
2. Manajemen dan Organisasi
Manajemen dan organisasi sangat berubungan erat, manajemen merupakan
atau berarti sebagai kepemimpinan, sedangkan dalam organisasi juga
terdapat kepemimpinan. Dengan demikian untuk menyusun organisasi yang
baik dan dapat mencapai tujuan di perlukan manajemen yang baik juga.
3. Manajemen dan Tata Kerja
Pada dasarnya Manajemen tidak dapat dipandang sebagai proses teknik
secara ketat (peranan,prosedur,dan prinsip).namun keterampilan dalam
mengatur segala aspek dalam organisasi sangat diperlukan dalam mengatur
tatakerja sesuai suatu tujuan,jika tujuan ingin tercapai dengan
semaksimal mungkin.
4. Tipe atau Bentuk Organisasi
Dalam perkembangan untuk saat ini pada pokoknya ada 6 bentuk organisasi
yang perlu diperhatikan. Bentuk organisasi tersebut adalah :
A. Organisasi Lini
Diciptakan oleh Henry Fayol, Organisasi lini adalah suatu bentuk
organisasi yang menghubungkan langsung secara vertical antara atasan
dengan bawahan, sejak dari pimpinan tertinggi sampai dengan
jabatan-jabatan yang terendah, antara eselon satu dengan eselon yang
lain masing-masing dihubungkan dengan garis wewenang atau komando.
Organisasi ini sering disebut dengan organisasi militer. Organisasi Lini
hanya tepat dipakai dalam organisasi kecil. Contohnya; Perbengkelan,
Kedai Nasi, Warteg, Rukun tetangga.
Memiliki ciri-ciri :
B. Organisasi Lini Dan Staff
Merupakan kombinasi dari organisasi lini, asaz komando dipertahankan tetapi dalam kelancaran tugas pemimpin dibantu oleh para staff, dimana staff berperan memberi masukan, bantuan pikiranm saran-saran, data informasi yang dibutuhkan.
Memiliki ciri-ciri :
C. Organisasi Fungsional
Diciptakan oleh Frederick W. Taylor, Organisasi ini disusun berdasarkan sifat dan macam pekerjaan yang harus dilakukan, masalah pembagian kerja merupakan masalah yang menjadi perhatian yang sungguh-sungguh.
Memiliki ciri-ciri :
D. Organisasi Lini Dan Fungsional
Suatu bentuk organisasi dimana wewenang dari pimpinan tertinggi dilimpahkan kepada perkepala unit dibawahnya dalam bidang pekerjaan tertentu dan selanjutnya pimpinan tertinggi tadi masih melimpahkan wewenang kepada pejabat fungsional yang melaksanakan bidang pekerjaan operasional dan hasil tugasnya diserahkan kepada kepala unit terdahulu tanpa memandang eselon atau tingkatan.
Memiliki ciri-ciri :
E. Organisai Lini, Fungsional, dan Staff
Organisasi ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari organisasi berbentuk lini dan fungsional.
Memiliki ciri-ciri :
F. Organisasi Komite
Suatu organisasi dimana tugas kepemimpinan dan tugas tertentu lainnya dilaksakan secara kolektif.
Organisasi komite terdiri dari :
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dari semua yang saya baca dan yang saya tahu masing-masing Struktur Organisasi mempunyai kelebihan dan kekurangan, namun ada yang memiliki kekurangan yang lebih sedikit dan ada yang lebih banyak, disini saya membahas tentang Organisasi Lini, dari yang kita ketahui Organisasi Lini ini berlimpah wewenang secara vertikal yang berarti segala wewenang dipegang oleh kekuasaan paling atas / Direktur Utama dan mereka yang sepenuhnya mengatur semua bawahannya, jadi orang yang mempunyai kekuasaan dapat bertanggung jawab dan terbuka kepada bawahannya, dan pengambilan keputusan secara tepat, karena sebuah kekuasaan dipegang oleh satu maka mudah dalam mengatur bawahan-bawahannya dan disiplin dalam kerja mudah terkontrol, dan juga saling anggota dapat bersolidaritas tinggi, dalam hal kerugian Organisasi Lini hanya mempunyai satu tujuan, satu wewenang oleh pihak-pihak tertentu dan pemimpin juga dapat berbuat semau-maunya jika pemimpinnya tidak benar dan tidak mempunyai solidaritas terhadap bawahannya dan dari situlah kurangnya pengembangan fikiran dan aktivitas terhadap anggota-anggota lain, jadi pada intinya Organisasi Lini itu hanyalah bergantung dengan Direktur, jika keputusan yang diambil direktur tidak matang maka sebuah instansi atau perusahaan tersebut dapat hancur, maka diperlukanlah Direktur yang benar-benar bisa mengambil wewenang dan keputusan yang baik.
------------------------------------------------------------------------------------------
Organisasi
- Hubungan antara atasan dan bawahan masih bersifat langsung dengan satu garis wewenang.
- Jumlah karyawan sedikit.
- Pemilik modal merupakan pemimpin tertinggi.
- Belum terdapat spesialisasi.
- Masing-masing kepala unit mempunyai wewenang & tanggung jawab penuh atas segala bidang pekerjaan.
- Struktur organisasi sederhana dan stabil.
- Organisasi tipe garis biasanya organisasi kecil.
- Disiplin mudah dipelihara (dipertahankan).
- Ada kesatuan komando yang terjamin dengan baik.
- Disiplin pegawai tinggi dan mudah dipelihara (dipertahankan).
- Koordinasi lebih mudah dilaksanakan.
- Proses pengambilan keputusan dan instruksi-instruksi dapat berjalan cepat.
- Garis kepemimpinan tegas, tidak simpang siur, karena pimpinan langsung berhubungan dengan bawahannya sehingga semua perintah dapat dimengerti dan dilaksanakan.
- Rasa solidaritas pegawai biasanya tinggi.
- Pengendalian mudah dilaksanakan dengan cepat.
- Tersedianya kesempatan baik untuk latihan bagi pengembangan bakat-bakat pimpinan.
- Adanya penghematan biaya.
- Pengawasan berjalan efektif.
- Tujuan dan keinginan pribadi pimpinan seringkali sulit dibedakan dengan tujuan organisasi.
- Pembebanan yang berat dari pejabat pimpinan , karena dipegang sendiri.
- Adanya kecenderungan pimpinan bertindak secara otoriter/diktaktor, cenderung bersikap kaku (tidak fleksibel).
- Kesempatan pegawai untuk berkembang agak terbatas karena sukar untuk mengabil inisiatif sendiri.
- Organisasi terlalu tergantung kepada satu orang, yaitu pimpinan.
- Kurang tersedianya saf ahli.
| Contoh bagan organisasi lini |
B. Organisasi Lini Dan Staff
Merupakan kombinasi dari organisasi lini, asaz komando dipertahankan tetapi dalam kelancaran tugas pemimpin dibantu oleh para staff, dimana staff berperan memberi masukan, bantuan pikiranm saran-saran, data informasi yang dibutuhkan.
Memiliki ciri-ciri :
- Hubungan atasan dan bawahan tidak bersifat langsung
- Pucuk pimpinan hanya satu orang dibantu staff
- Terdapat 2 kelompok wewenang yaitu lini dan staff
- Jumlah karyawan banyak
- Organisasi besar, bersifat komplek
- Adanya spesialisasi
- Asas kesatuan komando tetap ada. Pimpinan tetap dalam satu tangan.
- Adanya tugas yang jelas antara pimpian staf dan pelaksana
- Tipe organisasi garis dan staf fleksibel (luwes) karena dapat ditempatkan pada organisasi besar maupun kecil.
- Pengembalian keputusan relatif mudah, karena mendapat bantuan/sumbangn pemikiran dari staf.
- Koordinasi mudah dilakukan, karena ada pembagian tugas yang jelas.
- Disiplin dan moral pegawai biasanya tinggi, karena tugas sesuai dengan spesialisasinya
- Bakat pegawai dapat berkembang sesuai dengan spesialisasinya.
- Diperoleh manfaat yang besar bagi para ahli
- Kelompok pelaksana terkadang bingung untuk membedakan perintah dan bantuan nasihat
- Solidaritas pegawai kurang, karena adanya pegawai yang tidak saling mengenal
- Sering terjadi persaingan tidak sehat, karena masing-masing menganggap tugas yang dilaksanakannyalah yang penting
- Pimpinan lini mengabaikan advis staf
- Apabila tugas dan tanggung jawab dalam berbagai kerja antara pelajat garis dan staf tidak tegas, maka akan menimbulkan kekacauan dalam menjalankan wewenang
- Penggunaan staf ahli bisa menambah pembebanan biaya yang besar
- Kemungkinan pimpinan staf melampaui kewenangan stafnya sehingga menimbulkan ketidaksenangan pegawai lini
- Kemungkinan akan terdapat perbedaan interpretasi antara orang lini dan staf dalam kebijakan dan tugas-tugas yang diberikan sehingga menimbulkan permasalahan menjadi kompleks
![]() |
| Contoh bagan organisasi lini dan staff |
Diciptakan oleh Frederick W. Taylor, Organisasi ini disusun berdasarkan sifat dan macam pekerjaan yang harus dilakukan, masalah pembagian kerja merupakan masalah yang menjadi perhatian yang sungguh-sungguh.
Memiliki ciri-ciri :
- Pembidangan tugas secara tegas dan jelas dapat dibedakan
- Bawahan akan menerima perintah dari beberapa atasan
- Pekerjaan lebih banyak bersifat teknis
- Target-target jelas dan pasti
- Pengawasan ketat
- Penempatan jabatan berdasarkan spesialisasi
- Spesialisasi dapat dilakukan secara optimal
- Para pegawai bekerja sesuai ketrampilannya masing-masing
- Produktivitas dan efisiensi dapat ditingkatkan
- Koordinasi menyeluruh bisa dilaksanakan pada eselon atas, sehingga berjalan lancar dan tertib
- Solidaritas, loyalitas, dan disiplin karyawan yang menjalankan fungsi yang sama biasanya cukup tinggi.
- Pembidangan tugas menjadi jelas
- Pekerjaan seringkali sangat membosankan
- Sulit mengadakan perpindahan karyawan/pegawai dari satu bagian ke bagian lain karena pegawai hanya memperhatikan bidang spesialisasi sendiri saja
- Sering ada pegawai yang mementingkan bidangnya sendiri, sehingga koordinasi menyeluruh sulit dan sukar dilakukan
![]() |
| Contoh bagan organisasi fungsional |
Suatu bentuk organisasi dimana wewenang dari pimpinan tertinggi dilimpahkan kepada perkepala unit dibawahnya dalam bidang pekerjaan tertentu dan selanjutnya pimpinan tertinggi tadi masih melimpahkan wewenang kepada pejabat fungsional yang melaksanakan bidang pekerjaan operasional dan hasil tugasnya diserahkan kepada kepala unit terdahulu tanpa memandang eselon atau tingkatan.
Memiliki ciri-ciri :
- Tidak tampak adanya perbedaan tugas-tugas pokok dan tugas-tugas yang bersifat bantuan.
- Terdapat spesialisasi yang maksimal
- Tidak ditonjolkan perbedaan tingkatan dalam pemabagian kerja
- Solodaritas tinggi
- Disiplin tinggi
- Produktifitas tinggi karena spesialisasi dilaksanakan maksimal
- Pekerjaan – pekerjaan yang tidak rutin atau teknis tidak dikerjakan
- Kurang fleksibel dan tour of duty
- Pejabat fungsional akan mengalami kebingungan karena dikoordinasikan oleh lebih dari satu orang
- Spesiaisasi memberikan kejenuhan
![]() |
| Contoh bagan organisasi lini dan fungsional |
Organisasi ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari organisasi berbentuk lini dan fungsional.
Memiliki ciri-ciri :
- Organisasi besar dan kadang sangat ruwet
- Jumlah karyawan banyak.
- Mempunyai 3 unsur karyawan pokok :
- Karyawan dengan tugas pokok (line personal)
- Karyawan dengan tugas bantuan (staff personal)
- Karyawan dengan tugas operasional fungsional (functional group)
![]() |
| Contoh bagan organisasi lini, fungsional, dan staff |
Suatu organisasi dimana tugas kepemimpinan dan tugas tertentu lainnya dilaksakan secara kolektif.
Organisasi komite terdiri dari :
- Executive Committee ( Pimpinan Komite), yaitu para anggotanya mempunyai wewenang lini
- Staff Committee, yaitu orang – orang yang hanya mempunyai wewenang staf
- Adanya dewan dimana anggota bertindak secara kolektif
- Adanya hak, wewenang dan tanggung jawab sama dari masing-masing anggota dewan.
- Asas musyawarah sangat ditonjolkan
- Organisasinya besar & Struktur tidak sederhana
- Biasannya bergerak dibidang perbankan, asuransi, niaga.
- Pelaksanaan decision making berlangsung baik karena terjadi musyawarah dengan pemegang saham maupun dewan
- Kepemimpinan yang bersifat otokratis yang sangat kecil
- Dengan adanya tour of duty maka pengembangan karier terjamin
- Proses decision making sangat lambat
- Biaya operasional rutin sangat tinggi
- Kalau ada masalah sering kali terjadi penghindaran siapa yang bertanggung jawab
![]() |
| Contoh bagan organisasi komite |
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
BAB III
KESIMPULAN
Dari semua yang saya baca dan yang saya tahu masing-masing Struktur Organisasi mempunyai kelebihan dan kekurangan, namun ada yang memiliki kekurangan yang lebih sedikit dan ada yang lebih banyak, disini saya membahas tentang Organisasi Lini, dari yang kita ketahui Organisasi Lini ini berlimpah wewenang secara vertikal yang berarti segala wewenang dipegang oleh kekuasaan paling atas / Direktur Utama dan mereka yang sepenuhnya mengatur semua bawahannya, jadi orang yang mempunyai kekuasaan dapat bertanggung jawab dan terbuka kepada bawahannya, dan pengambilan keputusan secara tepat, karena sebuah kekuasaan dipegang oleh satu maka mudah dalam mengatur bawahan-bawahannya dan disiplin dalam kerja mudah terkontrol, dan juga saling anggota dapat bersolidaritas tinggi, dalam hal kerugian Organisasi Lini hanya mempunyai satu tujuan, satu wewenang oleh pihak-pihak tertentu dan pemimpin juga dapat berbuat semau-maunya jika pemimpinnya tidak benar dan tidak mempunyai solidaritas terhadap bawahannya dan dari situlah kurangnya pengembangan fikiran dan aktivitas terhadap anggota-anggota lain, jadi pada intinya Organisasi Lini itu hanyalah bergantung dengan Direktur, jika keputusan yang diambil direktur tidak matang maka sebuah instansi atau perusahaan tersebut dapat hancur, maka diperlukanlah Direktur yang benar-benar bisa mengambil wewenang dan keputusan yang baik.
------------------------------------------------------------------------------------------
DAFTAR PUSTAKA
Rabu, 13 Juni 2012
Adil Terhadap Sesama
Terkadang kita tidak menyadari
bahwa kita tidak adil terhadap teman, saudara, orang tua, atau pun kepada orang
lain. Hal ini memang sepele tetapi sedikit orang yang menyadari tentang ini.
Dalam tulisan saya ini, saya ingin mengajak anda semua untuk menyadari tentang
keadilan terhadap sesame. Tulisan saya ini masuk ke dalam tema “Manusia dan Keadilan”.
Sadarkah Anda bahwa belum adil ?
Pasti Anda menjawab dalam hati bahwa diri Anda sudah adil. Anda rela
menghabiskan uang Anda untuk bersenang-senang dengan teman Anda sedangkan di
rumah adik Anda meminta uang tetapi tidak di kasih, padahal adik hanya meminta
Rp.1.000,00 saja kepada Anda. Anda rela mentraktir kekasih di restoran mewah,
tetapi ketika orang tua Anda meminta kiriman uang hanya Rp.50.000,00 tidak di
kirimkan dengan alasan Anda belum gajian atau uang Anda sudah habis buat ini
itu (berbagai alasan yang Anda ucapkan).
Ada kasus contoh lagi. Misalkan dalam dunia
perkuliahan. Anda di suruh mefotocopy materi oleh dosen. Anda lebih
mengutamakan genk
Anda dari pada teman. Sadarkah Anda jika telah melakukan hal itu ? Sungguh saja
tidak. Perbuatan yang Anda lakukan itu secara tidak sadar, pasti ada teman yang
lain di kelas yang tidak suka pada Anda karena lebih mendahulukan genk dari pada teman,
padahal teman Anda ingin sekali belajar dari materi itu. Dia tidak bisa berbuat
apa-apa Karen fotocopynya sedang di pegang Anda.
Marilah dari sekarang kita
berbuat adil terhadap sesame agar tidak ada kecemburuan social. Begitu sangat
rugi diri Anda jika tidak adil. Mungkin ini sangatlah sepele tetapi sering
dilakukan secara tidak sadar. Manusia memang No Body Perfect tetapi tidak ada
salahnya toh untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik. Sekian tulisan saya
ini yang sangat sederhana. Semoga Anda semua sadar dan dapat memperbaiki diri
Anda untuk bersikap adil :)
Begitu Sombongnya Dirimu
Di Dunia ini pasti ada orang
yang ramah dan sombong. Dalam tulisan ini saya akan menulis yang bertema “Manusia dan Keindahan”. Saya akan menulis betapa
indahnya keramahan dalam lingkungan. Kita sangatlah membenci orang-orang yang
sombong, tetapi sadarkah kita ini termasuk kedalam orang yang ramah atau
sombong ?
Kita sangat tidak menyadari
bahwa kita sangatlah sombong. Kenapa begitu ? kita hanya bertegur sapa dengan
orang yang kita kenal saja, dengan orang yang tidak kenal kita tidak mau
menegur, boro-boro menegur, senyum saja tidak. Betul tidak ?
Dari contoh di atas sudah
mencerminkan begitu sombongnya diri kita terhadap orang lain. Walaupun kita
tidak mengenali orang yang kita temui di jalan, sebaiknya kita menegurnya, jika
tidak bisa ya minimal kita tersenyum. Dengan begitu kita bisa di bilang
termasuk orang yang ramah. Dampak dari sikap itu, kita dapat disenangi oleh
orang lain karena kita telah ramah terhadapnya.
Sebagai umat beragama, telah di
jelaskan oleh agama bahwa kita tidaklah boleh sebagai umat yang merugi. Sikap sombong
dapat menyebabkan kita sebagai umat yang merugi. Maukah Anda termasuk ke dalam
umat yang merugi ?
Terdapat juga kasus seperti ini.
Anda mempunyai harta yang banyak, tetapi Anda hanya ingin berteman yang setara.
Sikap ini sudah melebihi batas sikap sombong. Karena di dalam agama terutama
Islam. Sudah di jelaskan bahwa yang membedakan kita di akhirat hanyalah tingkat
keimanan saja. Tetapi mengapa Anda masih saja sombong karena mempunyai harta
yang banyak di dunia ? Untuk apa Anda bersikap sombong di dunia sedangkan di
akhirat tersiksa ? Pejamkan ini baik-baik saudaraku.
Ayolah saudara-saudaraku kita
ubah sikap sombong kita ini. Janganlah kita sombong lagi. Tidak ada dampak baik
bagi orang yang bersikap sombong. Semoga tulisan saya ini bermanfaat bagi saya maupun
semua yang membacanya.
Rabu, 06 Juni 2012
Dampak Buruk Internet
Mengapa acara ini bertema dampak buruk terhadap internet ? Karena sudah kita ketahui internet itu bisa berdampak positif maupun negatif, terutama game online. Yang mau kita bahas adalah tentang game online. Kalau sudah berbicara game online pasti ada yang berkata game online begini begitu, bisa berjam-jam hanya berbicara tentang game online. Mari kita kupas game online setajam mungkin, silet kaliie.. hehehe
Game online itu bisa berdampak buruk terutama pada anak-anak. Tidak sedikit anak-anak bolos sekolah karena mereka bermain game online ataupun mengantuk karena habis bermain game online di internet berjam-jam. Mahasiswa pun juga tidak sedikit yang bolos gara-gara game online. Game online bisa mengurangi kecerdasan otak bagi siapa pun yang memainkannya berjam-jam, apalagi jika memainkannya semalaman ? itu akan sangat mudah mengurangi kecerdasan otak. Bukan hanya pada kecerdasan otak saja dampaknya, melainkan terhadap mata juga. Mata kita yang tadinya tidak minus tetapi karena lama-lama bermain game online dapat menyebabkan mata menjadi minus, itu di karenakan cahaya dari laptop ataupun komputer.
Bagaimana kita dapat mengurangi dampaknya game online ? itu mudah saja, dapat dengan cara mengurangi memainkan game online dan minum vitamin. Hal ini bagi mahasiswa sudah tahu tapi bagi anak-anak SMP ataupun SD sangat sulit ya jadi harus ada perhatian extra dari para orang tuanya. Biasanya anak-anak SD yang susah di atur jika sedang asik bermain game online. Caranya dapat dengan menggunakan perjanjian. Buat kesepakatan orang tua dengan anak. Kesepakatannya dapat dengan cara seperti ini :: Biarkan anak bermain game online tetapi hanya diberi waktu 2 jam dalam sehari, jika anak tidak mau mengikuti apa yang di sarankan orang tuanya, sebagai orang tua dapat memperingatin dengan keras akan menarik kembali fasilitas laptop atau komputer dan mengurangi uang jajan, dengan begitu mau tidak mau anak akan mengikuti kesepakatan itu. Jika dengan rutin anak memainkan game online itu hanya 2 jam dalam sehari, maka akan terbiasa pula mereka tanpa harus diingatkan.
Hal seperti cara di atas tidak hanya diberlakukan anak-anak SD saja, tetapi bisa juga terhadap anak SMP, SMA, maupun mahasiswa :). Jika semua orang tua dapat dengan tegas mengingatkan anak-anak mereka, maka akan semakin bertambah pula anak-anak cerdas di bangsa Indonesia ini. Dengan cara begitu maka game online tidak terlalu membawa dampak buruk terhadap anak-anak Indonesia. Tulisan reportase saya ini masuk ke dalam tugas kuliah saya dengan "Manusia dan Pandangan Hidup" karena merupakan pandangan hidup untuk mencerdaskan anak bangsa Indonesi dengan cara mengurangi dampak game online. Semoga tulisan reportase saya ini dapat bermanfaat :)
Dokumentasi
Harapan Seorang Anak
Saya ingin menuliskan kehidupan seseorang, sebut saja Via. Via terlahir di tengah keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang. Dia lahir di Jakarta. Dia anak pertama dari empat bersaudara. Saat ini Via tinggal di Depok, Jawa Barat. Ibunya hanya seorang guru di TK sedangkan ayahnya hanya seorang pegawai di perusahaan pegawai negeri sipil yang teletak di Jakarta Timur.
Asal mula cerita dimana saat Via masih sekolah duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Via dan keluarganya sangat bahagia, walaupun mereka hanya tinggal di rumah kontrakan. Via selalu mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtuanya. Menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Waktu terus berjalan, tak terasa Via sudah lulus dari SD. Via melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren di Jawa Tengah. Kehidupan keluarga Via pun sudah mulai berubah. Orang tua Via mempunyai sekolah Taman Kanak-kanak (TK Islam), walaupun sekolah TK itu di lingkungan kampung tapi banyak orangtua yang menyekolahkan anaknya di TK milik orang tua Via. Orang tua Via dalam TK-nya itu tak mendapatkan untung sama sekali karena niat orang tua Via adalah ingin membantu para tetangga di kampungnya.
Beberapa tahun kemudian.. Maha besar Allah, niat baiknya orang tua Via di balas oleh Allah SWT. Kehidupannya berubah drastis. Via dan keluarga dapat mempunyai rumah sendiri dan murid di TK mereka juga semakin banyak. Kehidupan Via bisa di bilang kehidupan yang sempurna karena tak lagi kekurangan. Semakin lama Via semakin dewasa begitu pula adik-adiknya. Via yang sekarang sudah sekolah di perguruan tinggi swasta di Depok, dia merasa bosan dengan kehidupannya yang sekarang. Karena dia tidak mendapatkan lagi kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya. Adik-adiknya pun juga kurang mendapat kasih sayang. Orang tua Via sudah sibuk dengan urusan masing-masing.
Via mulai berfikir "Buat apa hidup serba ada tetapi aku tak ada lagi kasih sayang di keluarga ini ?". Dia semakin jenuh dengan semuanya. Untung saja Via mempunyai sahabat yang masih menyayanginya, sebut saja Phita. Kini Via selalu cerita kepada sahabatnya dulu. Padahal sewaktu itu Via selalu cerita kepada orang tuanya, tapi sekarang orang tua Via sibuk sekali. Kadang Via pun sangat sulit bertemu ayahnya. Via merindukan kehidupannya yang dulu yang selalu penuh kasih sayang dan perhatian walaupun dengan kehidupan yang amat sangat sederhana. Via sangat berharap kasih sayang dan perhatian untuknya dan adik-adiknya di dapatkan lagi walaupun kehidupan mereka serba ada.
Pesan dari cerita ini adalah walaupun kehidupan kita sudah berubah menjadi kehidupan yang serba ada tetapi jangan sampai kebahagiaan berkurang. Harta bisa di cari tetapi yang namanya kebahagiaan itu tidak ada yang menjualnya. Hanya kitalah yang bisa menciptakan kebahagiaan itu. Buat para orang tua, janganlah kalian menelantarkan kebahagiaan dan kasih sayang anak-anak Anda karena itu sangat dapat membuat anak-anak menjadi sedih. Uang bukanlah segalanya. Kebahagiaan juga bukan karena mempunyai banyak uang tetapi kebahagiaan bisa berupa kasih sayang dan perhatian yang penuh.
Cerita ini masuk kedalam tugas kuluah saya yang berjudul "Manusia dan harapan". Semoga tidak ada lagi orang tua yang menelantarkan kebahagiaan anak-anaknya. Sekian tulisan saya ini, semoga dapat bermanfaat untuk kita semua :)
Langganan:
Postingan (Atom)




